Rabu, 15 Agustus 2012

Indera Pendengar dan Pembau

Pada umumnya, sistem indera yang dikenal adalah indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peraba. Manusia mempunyai lima alat indra sehingga sering disebut sebagai pancaindra. Mata sebagai indra penglihat, telinga sebagai indra pendengar, hidung sebagai indra pembau, lidah sebagai indra pengecap, dan kulit sebagai indra peraba. Telinga merupakan alat indera untuk mendengar bunyi atau suara. Bunyi adalah sesuatu yang terdengar (didengar) atau ditangkap oleh telinga. Sedangkan suara bunyi adalah yang dikeluarkan dari mulut manusia, hewan, dan alat atau perkakas. Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan. Indra pendengar kita adalah telinga. Telinga kita sepasang yaitu telinga kanan dan telinga kiri. Telinga terdiri atas tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. 

Telinga luar
Telinga luar terdiri atas daun telinga, lubang telinga, liang pendengaran, dan gendang telinga(membran timpani). Bagian-bagian telinga luar ini berfungsi untuk menangkap dan mengumpulkan gelombang bunyi. Setelah itu, meneruskannya ke gendang telinga sehingga gendang telinga bergetar.  

Telinga tengah
Bagian ini merupakan rongga yang berisi udara untuk menjaga tekanan udara agar seimbang. Di dalamnya terdapat saluran Eustachio yang menghubungkan telinga tengah dengan faring. Di dalam rongga tersebut terdapat tiga tulang pendengaran yaitu tulang martil, tulang landasan, dan tulang sanggurdi. Kegunaan ketiga tulang tersebut untuk memperkuat getaran dan meneruskan getaran bunyi ke koklea (telinga dalam). Rongga telinga tengah berhubungan dengan telinga luar melalui membran timpani. Hubungan telinga tengah dengan bagian telinga dalam melalui jendela oval dan jendela bundar yang keduanya dilapisi dengan membran yang transparan.

Telinga dalam
Bagian dalam telinga terdiri atas tingkap jorong, tingkap bundar, tiga saluran setengah lingkaran, dan koklea (rumah siput) . Bagian-bagian telinga dalam berfungsi untuk menangkap getaran, kemudian mengubahnya menjadi impuls yang diteruskan ke otak melalui saraf pendengaran.

Cara kerja indra pendengaran
Gelombang bunyi » Daun telinga » Lubang telinga » Gendang telinga » Tulang pendengaran » Tingkap jorong   » Koklea » Saraf pendengaran » Otak » Dapat mendengar bunyi atau suara

Gelombang bunyi ditangkap oleh daun telinga dan masuk telinga melalui lubang telinga. Selanjutnya, gelombang bunyi merambat menuju gendang telinga. Gendang telinga yang terkena gelombang bunyi akan bergetar. Getaran ini akan diperkuat dan diteruskan ke tingkap jorong oleh tulang-tulang pendengaran. Getaran tersebut akan menggerakkan cairan limfa di dalam koklea. Getaran ini juga mengakibatkan tingkap bundar bergetar keluar masuk untuk meredam pantulan. Gerakan cairan limfa dalam koklea akan menggetarkan ujung-ujung saraf pendengaran. Saraf pendengaran akan mengirimkan informasi ke otak. Dari hasil pengolahan di otak ini akhirnya kita dapat mendengar bunyi atau suara

Gangguan Indera Pendengaran
Telinga sebagai indra pendengar juga dapat mengalami gangguan dan penyakit, misalnya tuli. Orang yang tuli sejak lahir akan menjadi bisu. Selain itu, kebiasaan buruk yang sering dilakukan terhadap telinga kita juga dapat mengakibatkan gangguan. Kebiasaan itu misalnya, membersihkan telinga menggunakan benda-benda keras seperti peniti atau klip kertas. Tindakan ini dapat menyebabkan luka pada telinga atau pecahnya gendang telinga.

Cara Menjaga Indera Pendengaran
Agar telinga tetap dalam keadaan sehat melalui cara-cara berikut.
  • Bersihkanlah bagian luar telingamu secara teratur menggunakan bendabenda yang lunak, misalnya kapas pembersih! Jangan sekali-kali membersihkan bagian dalam telinga;
  • Segera periksakan ke dokter bila merasa ada yang sakit dalam telinga;
  • Hindari suara yang sangat nyaring karena dapat memekakkan telinga.
Indera Pembau
Hidung terdiri atas dua lubang hidung dan rongga hidung. Rongga hidung dibentuk oleh tulang hidung dan tengkorak. Di dalam rongga hidung terdapat selaput lendir dan rambut halus yang disebut rambut hidung. Rambut hidung dan selaput lendir berguna untuk menahan kotoran yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan.  

Di rongga hidung bagian atas terdapat sel-sel reseptor atau ujung-ujung saraf pembau. Ujung-ujung saraf pembau berfungsi mendeteksi zat kimia yang ada dalam udara pernapasan. Ujung-ujung saraf pembau bergabung dengan pembuluh pencium yang berada di belakang rongga hidung. Pembuluh pencium berfungsi meneruskan rangsang bau yang diterima ujung-ujung saraf pembau. Setelah itu, rangsang diteruskan ke pusat pencium melalui saraf bau. Pusat pencium berada di otak.  

Di dalam rongga hidung, uap akan larut dalam lendir. Selanjutnya, rangsang bau uap ini diterima oleh ujung-ujung saraf pembau. Rangsangan ini kemudian diteruskan ke pusat pencium di otak melalui saraf pembau. Oleh otak, rangsang tersebut ditanggapi sehingga kita dapat mencium bau uap tersebut.

Salah satu kelainan pada indera pembau adalah Anosmia. Akibat kelainan Anosmia ini indera pembau kita dapat kehilangan sensitivitas terhadap rasa bau, sehingga kita tidak bisa mencium bau dari sesuatu benda atau zat tertentu. 



Anosmia dapat disebabkan oleh :


  • Penyumbatan rongga hidung akibat pilek.
  • Terdapat polip atau tumor di rongga hidung.
  • Sel rambut rusak akibat infeksi kronis.
  • Gangguan pada saraf olfaktori.


Mimisan (pendarahan pada hidung) dapat terjadi karena kebiasaan membersihkan hidung menggunakan benda yang tidak semestinya. Misalnya, membersihkannya dengan kuku jari tangan atau benda keras lainnya. Akibatnya, kulit pada rongga hidung menjadi terluka dan mengeluarkan darah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar